Ogah Pakai 3G setelah Cicipi 4G ~ Ivul varel

Ogah Pakai 3G setelah Cicipi 4G




Harapan masyarakat Indonesia untuk mencicipi teknologi 4G Long Term Evolution (LTE) secara masif memang masih belum terealisasi. Sedikit bocoran dari mereka yang sudah menjajalnya, jika sudah mencicipi LTE pasti para pengguna enggan untuk kembali lagi ke layanan 3G.

Demikian kelakar Alex Wang, Vice President & CTO Group ZTE Corporation saat berbincang santai dengan beberapa media di Jakarta.

Pernyataan Alex di atas tentu bukan tanpa alasan. Terlebih jika melihat kecepatan akses yang ditawarkan LTE ketimbang 3G.

"Dengan kecepatan yang didapatkan, pengguna pun rasanya tidak masalah jika dihadapkan dengan harga tarif yang lebih mahal," ujarnya.

Pun demikian, Alex menyadari jika implementasi LTE di negara berkembang -- seperti di Indonesia -- tak seperti membalikkan telapak tangan. Ada sejumlah tantangan yang mengiringi mimpi untuk mendapatkan akses internet yang lebih baik ini.

"Di kota besar negara-negara berkembang muncul tren digital lifestyle yang sangat cepat. Namun pertanyaannya adalah, apakah pembangunan infrastruktur LTE nantinya dapat mengejar kebutuhan pengguna yang sangat cepat? Ini tentu menjadi tantangan tersendiri," Alex memaparkan.

Hal lain yang juga patut dipertimbangkan adalah soal kesenjangan adopsi teknologi yang terjadi di antara kota besar seperti Jakarta dan kota kecil di belahan Indonesia lainnya


"Pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di Jakarta begitu tinggi, namun bagaimana dengan di kota lain yang masih kecil pendapatannya?" Alex mewanti-wanti.

Meski demikian, pejabat tinggi ZTE ini mendorong Indonesia untuk segera mengadopsi LTE jika tak mau ketinggalan lebih jauh. Tetapi tetap juga harus memikirkan aspek dan kondisi terkini dari masyarakat Indonesia seperti yang telah disebutkan di atas.

Yang Ling, Chief Engineer Core Network Product Team ZTE menambahkan, penyedia layanan LTE nantinya juga harus memikirkan soal investasi dari teknologi 4G ini. Pasalnya, dari sisi investasi, LTE jauh lebih mahal ketimbang 3G. 

"LTE lebih fokus di layanan data. Artinya, membutuhkan jaringan dan kapasitas yang lebih besar. Apalagi jika menginginkan coverage yang lebih luas dan kecepatan yang lebih cepat," jelasnya, dalam kesempatan yang sama.

Adapun untuk urusan frekuensi yang digunakan disarankan untuk menggunakan frekuensi rendah seperti di 700 MHz, 800 MHz ataupun 1800 MHz. Sebab, semakin rendah frekuensi diyakini memiliki jangkauan semakin luas.

"Namun balik lagi, kondisi di setiap negara berbeda. Tetapi pada umumnya, Indonesia memiliki kondisi seperti negara Asia Pasifik lainnya," Yang Ling melanjutnya.

ZTE sendiri saat ini mengklaim telah melakukan trial LTE dengan 140 operator di berbagai negara, dimana 65 di antaranya telah melakukan komersialisasi LTE seperti CHina Mobile, Telenor, TeliaSonera, CSL, Bharti Airtel, Aircel, Digitel, dan lainnya.

ZTE juga memiliki 13% paten yang terkait LTE. Dimana salah satu solusi ZTE, yakni Cloud Radio Solution telah memenangkan Global TD-LTE Initiative (GTI) Innovation Award pada perhelatan Mobile World Congress di Barcelona pada 24 Februari 2014 lalu


sumber:detikinet
Previous
Next Post »
Post a Comment
Thanks for your comment